Sejarah Masjid Quba

Masjid Quba
Masjid Quba Pada Malam Hari

Keistimewaan dan Sejarah Masjid Quba

Masjid Quba termasuk salah satu masjid bersejarah tinggi yang sering diziarahi, terutama oleh jamaah haji dan umroh. Inilah masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW saat berhijrah dari Mekah ke Madinah. Dinamakan Masjid Quba sesuai dengan nama tempat berdirinya masjid ini, yaitu Quba. Masjid ini terletak di arah tenggara Madinah, berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Madinah.

Keistimewaan Masjid Quba

Dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat At Taubah ayat 108, Masjid Quba disebut dengan nama Masjid Taqwa. Dengan disebutkannya Masjid Quba dalam Al-Qur’an, mengandung arti bahwa masjid ini memiliki nilai tersendiri oleh Allah SWT. Dalam firmannya, Allah SWT mengatakan bahwa masjid ini dibangun atas dasar taqwa dan memerintahkan untuk sholat di dalamnya.

Tidak ada kewajiban bagi jamaah haji maupun umroh untuk berziarah ke Masjid Quba. Namun sepanjang tahun, masjid ini selalu ramai dikunjungi para peziarah. Masjid Quba memiliki peran besar dalam peradaban Islam. Dari tempat ini, Islam dipelajari dan kemudian disebarluaskan ke tempat lainnya.

Sejarah Masjid Quba

Sejarah Masjid Quba sangat erat kaitannya dengan peristiwa hijrah. Saat memasuki Madinah, orang-orang Quba menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dan rombongan. Selama di Quba, Nabi SAW tinggal di rumah Kalsum bin Hadam. Kalsum memiliki sebidang kebun kurma berukuran 5.000 meter yang kemudian diwakafkan untuk dibangun sebuah masjid. Ukuran masjid ini sendiri hanya sekitar 1.200 meter.

Karena bertepatan dengan peristiwa hijrah, maka mudah diingat kapan tepatnya Nabi SAW membangun Masjid Quba, yaitu pada tanggal 8 Rabiul Awal 1 Hijriyah. Saat itu, Nabi Muhammad berusia 53 tahun dan telah menjalankan kenabiannya selama 13 tahun.

Pada awal dibangunnya, Masjid Quba sangatlah sederhana namun sudah bisa memenuhi syarat untuk bisa digunakan sebagai tempat sholat berjamaah. Bentuknya persegi panjang dengan tiang-tiang yang terbuat dari batang pohon kurma. Atapnya datar dan terbuat dari campuran tanah liat dengan pelepah daun kurma.

Peletakan batu pertama dilakukan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW, tepat di bagian mihrabnya sebagai tempat imam memimpin sholat jamaah sekaligus penunjuk arah kiblat. Umar dan Abu Bakar turut serta dalam peletakan batu pertama ini. Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong oleh kaum muslimin.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa saat pembangunan Masjid Quba, Sayyidina Ammar bin Auf termasuk orang yang paling rajin dan tak kenal lelah. Ia adalah prajurit pemberani yang mampu mengangkat batu-batu besar sebagai bahan membangun masjid. Batu-batu besar itu diikatkan ke perutnya, hal yang tak mampu dilakukan oleh orang lain.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dibangunlah dua menara pada masjid ini. Meski perkembangannya tidak sepesat Masjid Nabawi, Masjid Quba mengalami beberapa kali renovasi. Pada tahun 1986, di bawah pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz, dilakukan perbaikan dan perluasan secara besar-besaran. Proyek yang menghabiskan biaya sebesar 90 juta riyal tersebut, menjadikan Masjid Quba mampu menampung hingga 20.000 jamaah.

Masjid sederhana ini memiliki ruangan khusus yang digunakan sebagai kelas belajar-mengajar. Sumur dan tempat untuk berwudhu telah tersedia di dalamnya. Ventilasi udara sudah sangat baik sehingga sinar matahari dan udara dapat keluar-masuk dengan baik. Ada 19 pintu yang dipasang di masjid ini. Tiga di antaranya dibuat lebih besar sebagai pintu utama. Dua pintu utama ini menjadi pintu masuk jamaah pria, dan satu pintu utama lainnya untuk jamaah wanita.
© 2016 PT Holyland Abadi Supported by: Blogger