Tata Cara Umroh Sesuai Sunnah

Tata Cara Umroh Dalam Al Qur’an dan Hadist

Umroh merupakan rangkaian ibadah yang dituntunkan ajaran Islam. Secara teknis nyaris serupa dengan ibadah haji, ibadah ini dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa rangkaian ibadah di kota Mekah, khususnya di Masjidil Haram. Secara teknis berdasarkan syari'ah, Umroh berarti melaksanakan tawaf di Ka'bah dan sa'i antara Shofa dan Marwah, setelah memakai pakaian ihram yang diambil dari miqat. (Sumber : Wikipedia)

Umroh kerap disebut pula dengan haji kecil. Perbedaan umroh dengan haji adalah pada waktu dan tempat. Umroh dapat dilaksanakan sewaktu-waktu dan hanya di Mekah, sedangkan haji hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara tanggal 8 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah serta dilaksanakan sampai ke luar kota Mekah.

Adapun beberapa dalil baik ayat dalam Al Qur'an maupun hadist mengenai umroh, adalah sebagai berikut :

Al Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 158, yang artinya:

“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar Agama Allah. Maka barang siapa beribadah ke haji Baitullah atau berumroh, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui”

Al Quran Surah Al-Baqarah Ayat 196, yang artinya :

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah. Tetapi jika kami terkepung (oleh musuh), maka sembelihlah hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada diantara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barang siapa yang mengerjakan umroh sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang musah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia wajib berpuasa tiga hari dalam musim haji dan tujuh hari setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh hari. Demikian itu bagian bagi orang yang bukan penduduk Masjidil al Haram. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya”

Al Quran Surah Al-Maidah Ayat 1, yang artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman ! Penuilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan padamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu tengah berihram (haji atau umroh). Sesungguhnya Allah menetepakan hukum sesuai dengan yang dia kehendaki.”

Al Quran Surah Al-Maidah Ayat 95, yang artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu membunuh hewan buruan ketika kamu sedang ihram (haji atau umroh). Barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya. Menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai hadyu yang di bawa ke ka’bah atau kafarat (membayar tebusan) dengan member makan pada orang-orang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Maha Perkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa.”

Hadist-Hadist Mengenai Umroh

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah bersabda, “Ibadah umroh ke ibadah umroh berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA:
Artinya: “Islam dibina atas lima perkara: 1) bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah, 2) mendirikan shalat, 3) menunaikan zakat, 4) puasa di bulan Ramadhan, dan 5) melakukan haji ke Baitullah, bagi orang yang mampu melakukan perjalanan kesana."

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Baihaqi dan lainnya dengan isnad-isnad shahih, dari 'Aisyah RA, dia berkata, yang artinya :

"Pernah aku bertanya: "Ya Rasul Allah, apakah kaum wanita wajib melakukan perjuangan?"
"Ya", jawab Rasul, "perjuangan tanpa perang, yaitu melakukan haji dan umroh."


Ya’la bin Ummayah mengatakan bahwa seorang lelaki datang pada rasul ketika berada di Ji’ranah disertai beberapa sahabat nabi. Dalam riwayat lain disebutkan tiba-tiba datanglah seorang Arab dari pedalaman dengan menenakan jubah dan dijubahnya ada bekas minyak, atau ia berkatata kekuning-kuningan. Dalam riwayat lain disebutkan berlumuta dengan mewangiaan. Lalu orang itu berkata;

“Bagaimana yang kau perintakan kepadaku mengenai apa yang harus kulakukan dalam mengerjakan umroh?” (Nabi diam sejenak). Ketika itu, tiba-tiba Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad (dan dalam satu riwayat lalu datanglah wahyu kepada beliau), lalu ditutuplah wajah nabi dengan sehelai pakaian. Ya’la berkata, “Aku sendiri sebenarnya ingin sekali melihat Nabi SAW disaat beliau menerima wahyu dari Allah.” Aku menjawab “Ya” (lalu Ya;la datang sedang Rasulullah mengenakan pakaian yang digunakan untuk berlindung, lalu beliau memasukkan kepala beliau. Lalu, beliau menyingkap ujung pakaiannya dan aku melihat beliau. Tiba-tiba wajah Nabi menjadi kemerahan, mengeluarkan suara (saya kira Beliau berkata seperti dengkur oang tidur) Hal itu terjadi hanya sekejap. Setelah beliau sadar beliau bertanya mana lelaki yang bertanya tentang umroh tadi ?

Lalu orang itu dicari dan kemudian dibawa ke hadapan Rasulullah. Lalu, Rasulullah bersabda, yang artinya :

“Jika engkau hendak berumroh, maka lepaskanlah jubahmu dan bersihkanlah bekas wewangian dari dirimu dan pakaianmu. Bersihkanlah bekas kekuning-kuningannya. (Dalam riwayat lain disebutkan :Adapun wewangian yang ada padamu, maka cucilah tiga kali dan lepaskanlah jubahmu). Kemudian kerjakanlah dalam umrohmu sebagaimana apa yang engkau kerjakan dalam hajimu.”

Tata Cara Umroh

Berdasarkan berbagai hadist shahih seperti yang termaktub di atas dan berbagai hadist lainnya. Maka, dapat tata cara umroh adalah sebagai berikut :

Langkah Pertama
Perjalanan ke lokasi miqat. Miqat sendiri berarti tempat mulai niat umroh dan mengenakan pakaian ihram. Adapun tempat miqat ada beberapa :
  1. Jamaah yang datang dari arah Madinah bisa melakukan Bir-r Ali atau yang juga dikenal dengan Dzul Hulaifa.
  2. Jamaah dari arah Syuriah dan Iran di Juhfah, sebuah lokasi terpencil dekat Rabigh
  3. Jamaah dari arah Najd miqat di Qarnul Manadzil
  4. Jamaah dari arah Irak di Yalamlam

Setelah berganti pakaian, shalat sunnah ihram 2 rakaat. Benriat melakukan umorh karena Allah.

Catatan :
Sedari berpakaian ihrom, tidak diizinkan menggunakan wewangian, mandi memakai saebun, menggunakan pasta gigi, memakai peci atau pakaian lain, dan berhubungan suami istri.

Langkah Kedua
Melakukan perjalanan menuju ke Mekah sembari membaca kalimat talbiyah sebanyak mungkin

Langkah Ketiga
Setibanya di Masjidil Haram, jamaah melakukan tawaf dengan mengelilingi Ka'bah tujuh kali banyaknya. Pada putaran satu hingga tiga jamaah berlari-lari kecil. Pada empat putaran terakhir (4-7) berjalan biasa.

Tempat mmulai tawaf merupakan garis lurus, namun hgarisnya tak Nampak, antara pintu Ka'bah dan tanda lampu yang di pasang di sisi masjid.

Pada batas ini, sambil melihat ke Ka'bah, kita melambaikan tangan 3 kali sambil mengucapkan : "Bismillah, Allahu Akbar".

Sepanjang tawaf membaca do'a.

Langkah Keempat
Melakukan shalat 2 rakaat di hadapan maqom Ibrahim.

Langkah Kelima
Meminum air zam-zam. Jangan lupa berdoa terlebih dahulu.

Langkah Keenam
Melakukan sa'i antara Bukit Shofa dan Marwah, sebanyak tujuh kali pulang pergi. Sai dilakukan dengan berjalan, tapi pada batas antara 2 lampu, berlari-lari kecil.

Langkah Ketujuh
Jamaah mencukur rambut. Bisa cukur sebagian.

Semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat bagi kaum muslimin yang tengah mempersiapkan diri ke tanah suci atau kaum muslimin yang ingin memperdalam wawasan mengenai umroh. Jika ada kekeliruan atau kekurangan dari tulisan ini sepenuhnya karena kealfaan penulis.
© 2016 PT Holyland Abadi Supported by: Blogger