Mengenal Istilah Miqat Haji dan Umroh


Istilah miqat sering terdengar saat beribadah haji dan umroh. Yang dimaksud dengan moqat adalah lokasi atau tempat jamaah haji atau jamaah umroh melakukan ihram sebelum memasuki Tanah Suci. Ihram adalah salah satu dari wajib haji sebagai perwujudan dari niat sebelum melakukan ibadah haji dan umroh.Ihram dimulai dari miqat sesuai dengan tempat yang telah ditentukan.

Penentuan Miqat Haji dan Umroh

Jamaah yang akan melaksanakan ibadah haji maupun umroh dengan tujuan Mekah wajib melakukan ihram dari miqat yang telah ditentukan. Bahkan kepada jamaah yang menempuh perjalanan dari laut dan udara disyariatkan melakukan bersuci terlebih dahulu sebelum menaiki kendaraan.

Setelah dekat dengan daerah miqat maka jamaah harus mengenakan pakaian ihram kemudian berniat haji atau umroh dan membaca kalimat talbiyah. Jamaah yang tidak memakai pakaian ihram atau terlupa di tempat ihram sesuai ketentuan harus membayar denda atau dam. Sesuai dengan hadis dari Rasulullah yaitu “Miqat-miqat itu untuk penduduk di wilayah itu juga untuk penduduk dari daerah lain yang akan beribadah haji atau umroh dan melintasi miqat-miqat itu.”

Miqat untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh terbagi menjadi dua yaitu Miqat Makani atau tempat ihram dan Miqat Zamani atau masa ihram.

Miqat Makani

Miqat makani adalah miqat yang dikaitkan dengan tempat atau batas tertentu. Rasulullah memberi ketetapan tempat miqat dalam empat lokasi yaitu tempat miqat di Mekah, tempat miqat haji, tempat miqat umroh serta tempat miqat untuk berihram jamaah haji dan umroh. Menurut hadis dari Ibnu Abbas mengatakan “Bahwa Nabi SAW telah menentukan tempat permulaan ihram untuk penduduk Madinah di Dzulhulifah, untuk penduduk Syam di Juhfah, untuk penduduk Nejed di Qarnul Manazil dan untuk penduduk Yaman di Yalamlam.”

Rasulullah juga bersabda “Tempat-tempat itulah bagi (penduduk) mereka masing-masing dan orang-orang yang datang di tempat-tempat miqat yang bermaksud hendak melaksanakan ibadah haji dan umroh. Adapun orang yang tinggal di dalam daerah miqat maka dia berihram dari tempatnya sehingga orang Mekah memulai ihramnya dari Kota Mekah pula.”

Mekah merupakan tempat ihram atau miqat untuk orang-orang yang tinggal di Mekah. Sehingga bagi orang yang tinggal di Kota Mekah dapat berihram dari tempat tinggalnya masing-masing.

Pembagian Miqat Makani adalah sebagai berikut;
  1. Zul Hulaifah merupakan tempat ihram atau miqat untuk orang-orang yang datang dari Madinah dan negeri sejajar dengan Madinah. Sekarang miqat ini disebut sebagai Birr Ali. Jamaah haji dan jamaah umroh yang perjalanannya dari Jedah ke Madinah kemudian menuju Mekah akan menjadikan Birr Ali ini sebagai tempat ihram atau miqat. Miqat bagi jamaah Indonesia juga dari miqat Birr Ali.

  2. Juhfah merupakan tempat ihram atau miqat untuk orang-orang yang datang dari Magribi, Mesir, Syam dan negeri sejajar dengan ketiga tempat tersebut termasuk Suriah. Juhfah sendiri adalah nama sebuah kampung yang berada di antara Mekah dan Madinah. Kampung Juhfah telah rusak dan kampung terdekat dengan Juhfah adalah Rabig. Sehingga Rabig ditetapkan sebagai miqat untuk negara-negara tersebut.

  3. Yalamlam merupakan tempat ihram atau miqat untuk orang-orang yang datang dari Indonesia, India, Yaman dan negeri sejajar dengan ketiga negara tersebut. Yalamlam sendiri adalah suatu nama bukit di perbukitan Tuhamah.

  4. Qarbul Manazil merupakan tempat ihram atau miqat untuk orang-orang yang datang dari Najdil Hijaz dan negara sejajar dengan Najdil Hijaz. Qorbul Manazil sendiri adalah sebuah tempat bukit yang jaraknya sekitar 94 kilometer di sebelah timur Kota Mekah atau sekitar 220 kilometer dari Bandara King Abdul Aziz Jedah. Sekarang miqat ini disebut sebagai As Sail.

  5. Zatu Irqin merupakan tempat ihram atau miqat untuk orang-orang yang datang dari Irak dan negeri sejajar dengan Irak. Zatu Irqin adalah suatu nama kampung yang jaraknya sekitar 80.640 kilometer dari Kota Mekah. Miqat Zatu Irqin tidak disebutkan di dalam hadis Rasulullah tetapi ditetapkan berdasarkan kesepakatan oleh para ulama.
Untuk jamaah tempat tinggalnya berada di antara Mekah dan miqat-miqat tersebut maka miqat berada di negeri asal tempat mereka bermukim. Bagi penduduk Mekah yang bertempat tinggal di miqat dan ingin melaksanakan ibadah umroh maka ia harus keluar ke perbatasan haram dan melakukan ihram dari luar haram seperti di at Tan’im dan al Ju’ranah.

Jika jamaah haji dan umroh melalui jalan menuju ke salah satu dari kelima tempat miqat tersebut maka disitulah tempat miqatnya. Ketentuan tersebut dapat digunakan untuk yang memang miqatnya maupun yang tidak tempat miqatnya. Sebagaimana dihadiskan oleh HR. Bukhari dari perkataan Umar bin Khatab ialah “Lihatlah yang sejajar dengan jalan yang kalian tempuh.”

Dalam penjelasannya adalah barangsiapa melalui jalan yang menuju ke salah satu dari lima tempat miqat tersebut maka tempat itulah miqatnya. Dan barangsiapa yang melalui jalan tetapi tidak menuju ke salah satu miqat maka apabila ia melewati jalan dengan mendekati salah satu dari miqat tersebut secara otomatis ia sudah dapat melaksanakan rukun haji atau rukun umroh, yaitu ihram.

Apabila jamaah melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang dan melewati di atas salah satu tempat miqat atau melewati dan sejajar dengan salah satu tempat miqat maka hendaknya segera melaksanakan ihram. Namun apabila hal tersebut tidak diketahui maka untuk unsur kehati-hatian maka hendaknya jamaah segera melakukan ihram sebelum melalui miqat tersebut.

Untuk melakukan ihram sebelum memasuki miqat memang diperbolehkan apabila memang diperlukan. Namun apabila tidak diperlukan maka sebisa mungkin melaksanakan ihram di tempat miqat yang telah ditentukan. Dan hal tersebut adalah sunah dan sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.

Miqat Zamani

Miqat Zamani adalah batas atau miqat yang dikaitkan dengan jaman atau waktu yaitu waktu pelaksanaan ibadah haji. Waktu untuk melaksanakan ibadah haji telah ditetapkan di dalam Al Quran.

Dalam QS. Al Baqarah ayat 189 disebutkan bahwa “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Ktakanlah, itu merupakan petunjuk waktu bagi manusia dan ibadah haji dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah yang dari atasnya tetapi kebajikan itu adalah kebajikan bagi orang yang bertakwa. Masuklah ke rumah-rumah itu melalui pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Miqat Zamzani telah ditentukan yaitu dari awal bulan Syawal sampai terbit fajar di Hari Raya Haji pada tanggal 10 bulan haji. Sehingga ihram untuk ibadah haji wajib dilaksanakan selama 2 bulan 9,5 hari. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al Baqarah ayat 197 bunyinya “Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi....”
Bulan-bulan dimaklumi yang dimaksud dijabarkan oleh Ibnu Umar menurut hadis HR. Bukhari. “Dari Ibnu Umar, Bulan Haji itu adalah bulan Syawal, bulan Zulkaidah dan sepuluh hari bulan haji.”

Melakukan ibadah haji dan umroh harus melaksanakan ihram di tempat-tempat miqat yang telah ditentukan. Semoga tulisan Mengenal Istilah Miqat Haji dan Umroh ini bisa menambah wawasan kita semua. Aamiin by Dakwah Wisata
© 2016 PT Holyland Abadi Supported by: Blogger